Monday, January 26, 2009

"The Music of Lost Things" Acknowledgment



7 PM Monday, February 2

Auditorium Lembaga Indonesia – Perancis

(LIP), Jl. Sagan 3, Jogja


Konser Untung Basuki & Sabu : The Music of Lost Things
terselenggara atas atensi dan dukungan dari :

Fredericka Krisma Setyatami - Seto Parama Artho - Indah Wardhani
Ambara Muji Prakosa - Maria Silva - Yos Bintoro Pr. - Widyo Kisworo
Valentinus Irawan - Erno Bilal Octoberino - Puri Kencana Putri
Hanny Ratnawati - Rizal Pahlewi - Rety Ardiantika
Carla Mediana Hermiyanto - Yanti Danurtiyas - Marcus Indrarso
Adrianus Dian Susanto - Whani Darmawan - B. Sigit Yanuar Gunarto
Guntur Liem - Dominica Nursanti - Anna Elly - Bramyantoko Y. Hapsoro
Arief Ermawan - Sindu / Kharisma Swastika

Hasil penjualan tiket konser ini didedikasikan kepada Untung Basuki untuk pengembangan karya-karyanya.

Thursday, January 22, 2009

Untung Basuki : Refleksi Ketulusan dan Daya Hidup

Usai lebaran lalu atas inisiatif dan anggaran sendiri tigabelas mahasiswa Broadcast Journalism salah satu universitas di Jakarta berkunjung ke Yogya untuk belajar program dokumenter. Tugas yang mereka hadapi di antaranya adalah melakukan observasi mengenai seniman Untung Basuki. Tapi tidak seorangpun tahu siapa Untung. Jangankan Untung, saat berkesempatan mengintip latihan Djaduk Ferianto mereka mengatakan, “Kayaknya pernah lihat orang itu di tv.”

Para mahasiswa itu berkenalan dengan Untung Basuki tapi tidak serta-merta paham mengapa orang ini “penting untuk didokumentasikan”. Mereka seolah menghadapi kepingan-kepingan puzzle saat menemui Untung di rumahnya yang sederhana tidak jauh dari kandang gajah milik Kraton, kendaraannya vespa lawas, caranya berinteraksi tak ada sangar-sangarnya untuk ukuran seseorang yang ditokohkan, tapi gitar kesayangannya merupakan hadiah dari Iwan Fals. Dari Untung mereka mengenal nama Kirdjomulyo, Rendra, Adi Kurdi, Linus Suryadi AG, Iman Budi Santosa, sampai Japhens Wisnudjati. Untung seringkali menyanyikan lagu-lagu yang digubahnya berdasar puisi karya orang-orang yang disebutkannya tadi. Jika Untung musisi penting mengapa petikan gitar dan syair yang dibawakannya sesekali meleset. Tapi jika ia seniman gagal kenyataannya Djadug, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Royke B. Koapaha, dan violis Andi Amrullah dengan senang hati meluangkan waktu untuk diinterview mengenai Untung.

Ketigabelas mahasiswa beruntung datang saat Untung serta Sabu kelompok musiknya ada agenda pementasan. Tentu saja momen ini akan menjadi pencerahan bagi kegelisahan mereka dalam memahami Pak Untung, menjadi jawaban pamungkas atas pencarian mereka selama beberapa hari ini. Namun mereka seolah kembali terlempar ke labirin yang gelap begitu tahu pementasan itu ternyata diselenggarakan di panggung seadanya di sudut kampung di mana bloking para musisi dan penyanyi harus disesuaikan dengan keberadaan seperangkat gamelan serta pilar yang yang mustahil digeser.

Bersama Sabu Untung tampil terakhir setelah serangkaian pidato, sendratari dan fashion show anak-anak. Dan pada saat Sabu muncul di panggung puluhan penonton terlanjur beringsut meninggalkan arena pementasan. Gerimispun turun, kotak-kotak snack mulai dipunguti, dan panitia hilir-mudik menumpuk kursi-kursi – itu semua terjadi persis di depan panggung saat Untung dan Sabu tampil!

Tapi Untung dan rekan-rekannya tidak kehilangan setitikpun energinya. Penonton yang tersisa mengiringi lagu-lagu puisi yang dibawakan Sabu dengan tepuk tangan sepanjang lagu. Para mahasiswa bergerak lebih dekat ke panggung, berusaha merekam dan memotret penampilan bersahaja tapi berdaya itu dengan handycam maupun fasilitas media di telepon genggam. Mata mereka berbinar dan tubuh bergerak rancak mengikuti alunan dan daya yang terpancar. “Gila! Ini gila!” seru seorang mahasiswa yang aktif dalam kegiatan band kampus. “Belum pernah gue lihat yang kayak begini!”

Rangkaian peristiwa di atas merupakan satu fragmen yang terekam dalam proses pembuatan film dokumenter Untung Basuki : The Music of Lost Things. “Apa yang terjadi pada para mahasiswa Jakarta itu boleh jadi representasi apa yang kita akan alami dari seorang Untung Basuki,” ujar Titut Sulistyaningrum, produser OrcaFilms. “Bukan hanya puisi yang hilang dalam hidup kita saat ini, tapi juga hal-hal prinsipil, termasuk jatidiri. Tapi ketulusan dan energi yang dimiliki Pak Untung mudah-mudahan memberikan aksentuasi pada batin kita.”

*) Diolah dari artikel di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) 22 Januari 2009.

Wednesday, June 25, 2008

Screening (2)


“Film yang dalem banget ... Jadi spirit buat kita, para guru yang kadang lelah ketika berbenturan dengan banyak hal dan terjebak dalam rutinitas. Film ini mengobarkan kembali semangat, juga menyadarkan lagi hakekat menjadi guru yang sesungguhnya. Mengingatkan kita bahwa menjadi guru adalah bukan hanya mendidik, memberi pelajaran di ruang kelas, tapi terlebih berbagi kehidupan dengan anak-anak. Karena ternyata kitalah yang harus lebih banyak belajar dari mereka – anak-anak didik kita.” – Puri Astuti, Guru SMP Stella Duce II

“Simple but meaningful.” – Nana, Fisipol UGM

“Buat aku film ini sangat mendukung aku. Biasanya kalau sekolah ya cuma asal-asalan, sekarang aku mengucap syukur banget bisa sekolah.” – Novitasari, SMP Bopkri 3

“Terasa tidak ada klimaks karena dari awal sampai akhir memang sudah bagus, seperti puncak semua. Sejak awal kisahnya menarik, penuh humor, tidak boring, tapi tetap bermutu. Film yang penuh inspirasi ini kiranya menjadi refleksi bagi guru, orangtua maupun anak-anak. Bagus kalau dipertontonkan bagi para guru se-Indonesia.” – Yusup Sartono

“It’s awesome!! So natural. I love Iwan!” – M. Saifudin, Universitas Islam Indonesia

“Bagus, menarik. Tidak sekedar menampilkan cerita dan visualisasi. Tapi makna.” – Albert Pekik, Seminari Mertoyudan

“Film wagu.” – Sunu, SD Bopkri Demangan III

“Filmnya bagus dan indah.” – Anjas Velano, SDN Langensari

“Film bagus, berguna untuk membina moral dan karakter murid, guru-guru, dan orangtua!” – Herijati Hermanus Rahadi

“Filmnya bagus. Mungkin bisa dijadikan acuan sistem pendidikan Indonesia. Keren, bisa mengemas film ini dengan bentuk yang menarik.” – Unique

“An outstanding film I’ve ever seen! Thanks for opening my eyes about children ...” – Tere, Akademi Komunikasi Yogyakarta

“Filmnya bagus untuk semua anak bahkan orangtua. Kalau mungkin pemutaran film ini diperpanjang.” – Titi Purwanti, Guru SD Kanisius Kalasan

“Saya kurang mengerti alurnya tapi idenya keren banget!” – Evy Agusdina, Fisip UPN “Veteran”

“Nggak ada horrornya!” – Piona Chessonia Masyer, SDN Deresan

“Film yang sangat edukatif. Suasana dikemas dalam narasi yang sangat imajinatif dan kreatif.” – NN

“Mengharukan. Realistis dan tidak menggurui.” – Jakob Santosa, Mahasiswa Teologi Universitas Kristen Duta Wacana

“Film ini sangat bagus bagi saya sebagai guru. Menambah wawasan dan pengalaman yang baru. Memang itulah kenyataan dalam dunia pendidikan.” Ig. Miyadi, Guru SD Negeri Deresan

“Terus terang film ini menjadi suatu refleksi bagi saya yang masih menjalani pendidikan calon imam. Pendidikan memang bukan sekedar masalah nilai saja tapi lebih pada pembentukan karakter.” – Fr. Danarto Agung

“Asyik. Filmnya keren! Pokoknya berkesan.” – Ivanna, SMP Maria Immaculata

“Begini seharusnya belajar. Belajar yang bersifat inklusi, terbuka, tumbuh dan berkembang. Upaya ini perlu kampanye. Sekolahku Rumahku langkah strategis untuk memulai. Selamat dan teruslah melangkah demi kehidupan yang lebih baik.” – Tatag Winasis, Pemerhati Pendidikan

“Bagus!!! Tiada kata lain selain bagus! Two thumbs up! Dik Bintang lucu deh ...” – NN

“Ide bagus! Menghibur! Adegan favorit: ‘Saya pengen jadi arkeolog!’” – Putu Danan Jaya, BP3 Jawa Tengah

“Lucu, aneh, menarik.” – Mentari Sih Putranti, SDN Deresan

“Ok untuk pencerahan orangtua, bagaimana sebaiknya ikut terlibat aktif dalam pendidikan.” – Asteria Christianti

“Bagus! Sip! Masalah yang dihadapi Bintang dan Andi bahkan dihadapi oleh mahasiswa. Gap antara cita-cita dan realita selalu ada. Kok eman ya kalau cita-cita mandeg, film ini juga eman kalau mandeg di Ruang Kepodang ... Karena film ini membuka kesadaran akan pentingnya cita-cita, pentingnya pendidikan. All great things start with small things – film ini memulai sesuatu yang baik buat banyak orang dan bangsa.” – NN

“Bagus sekali film ini. Bener-bener film yang mendidik. Semoga membuat film serupa dan jangan lupa melibatkan kami ...” – Fendy Serdiyan, Avikom UPN “Veteran”

“Film yang sangat berkesan. Mengorek permasalahan kehidupan sehari-hari yang patut kita sadari dan ubah. Akan lebih baik jika disiarkan secara massal karena ini juga penting bagi bangsa kita. Bagus sekali filmnya. Menyentuh hati.” – Hilda

“Cerita ini mendukung anak menjadi mandiri. Cerita ini harus banyak terjadi di masyarakat.” – Galih Mahendra, SDN Deresan

“Film yang bagus. Sederhana tapi cerdas. Kapan bisa diputar di MP Bookpoint?” – Nina

“That’s a good movie! Anak-anak bisa mengambil banyak hal dari film ini, juga guru-guru dan pendidik.” – Ido, Domby Kid’s Hope

“Film yang cukup sederhana namun berbobot. Memberi pembelajaran pada orangtua dan guru.” – Yoyok Linggarjanto, Mata Kata

“Mengesankan. Ada yang menyedihkan, ada yang mengasyikkan.” – Dwi Ardiansyah, SDN Deresan

“Luar biasa ...” – Lis Yulianti

“Terima kasih, film bagus.” – NN

“Konflik kurang sengit tapi proficiat, bagus, mengena dan mengkritik banyak keburukan pendidikan tanpa mencoba menggurui.” – Fr. Joko Lelono

“Terima kasih telah mengembalikan pendidikan dan sekolah tidak sebatas pada institusi dan kewajiban. Tapi kehidupan dan arti yang lebih.” – Tia, Akademi Komunikasi Yogyakarta

“Bagus dan mendidik. Dari film ini anak-anak bisa mencontoh bagaimana menghormati orangtua, guru, dan membantu teman yang kesusahan. Semoga suatu saat film ini dapat diputar kembali.” – Nisyma, SD Sang Timur

“Film ini benar-benar menarik, baik pembuatannya maupun pesan yang disampaikan. Salut.” – Nico, Mahasiswa S2 Universitas Sanata Dharma

“Film yang berjudul Sekolahku Rumahku bagus sekali.” – Diah Norma, Siswa SD

“Bagus tapi sedih.” – Erna Wati, SD Perumnas III

“Ceritanya bagus, gambarnya menarik. Overall, siiip! Buat lebih banyak film kayak gini ya.” – Yohanes Andhika

“Asyik ya! Lama nggak melihat film seperti ini di tv yang isinya cuma sinetron. Terima kasih. Boleh gabung Orcafilms nggak? Pingin belajar juga.” – Kanakita

“Kapan dunia pendidikan kita seperti di film tadi? Semoga para praktisi pendidikan mau belajar mendedikasikan hidupnya untuk anak didik. Film yang keren abis!!!” – Niel, PKSKMS Somohitan

“Great film! Luar biasa! Memberi pencerahan pada saya.” – Adrianus Bintang HN.

“Bagus, menarik, mendidik, mengharukan, lucu. Semoga tercipta film-film humaniora seperti ini. Kabari terus kalau ada film-film seperti ini lagi. Oh ya, salam kenal buat Bu Guru yang ada tahi lalat di pipinya ...” – David Sugi

Wednesday, May 7, 2008

Screening (1)


“Ingin melihat lagi!” – Mukhlas Setiyawan, Siswa SD Surokarsan II

“Filmnya lucu.” – Fransiskus A., Siswa SD Kanisius Demangan Baru

“Menyenangkan dan mengharukan.” – Anggraeni Puspita, Siswa SD Kanisius Gayam

“Puas ...!!!” – Nining Wijayanti, Siswa SD Tarakanita

“Bagus. Pengen nonton lagi.” – Pascalia R. Gayatri, Siswa SD Kanisius Gayam

“Saya benci sama bapake Bintang!” – Judithya Paramitha, Siswa SD Kanisius Gayam

“Sungguh indah. Mengangkat keseharian apa adanya. Realitas yang ditonjolkan sangat kuat dalam film ini. Proficiat.” – Veronica Purwaningsih, Yayasan Samin

“Great film! Menyadarkan bangsa Indonesia!” – Evi Rumondang, SMA Stella Duce I

“Harus ditonton semua orangtua dan guru!!” – Dewi Susanti, Pemerhati Pendidikan

“Film ini memberi penguatan dan penyegaran terhadap panggilan serta profesi saya sebagai guru.” – Heri Cahyono Marius, Guru

“Film bagus untuk ditonton orangtua tapi untuk anak-anak struktur cerita seperti ini tidak terlalu bisa diikuti. Anak-anak belum punya daya tahan untuk menonton dengan durasi lama dan banyak tokoh seperti dalam film ini. Tapi saya salut. Film yang harus ditonton para orangtua!!!” – Abu Juniarenta, Yayasan Kampung Halaman

“Humanis! Jika semua orang mau belajar dari siapapun ...” – Nurul, Universitas Negeri Yogyakarta

“Film yang bagus. Dialognya sederhana tapi cerdas. Di tengah industri film Indonesia yang kelebihan garam film ini mengobati kerinduan pada film bercitarasa Indonesia.” – Dedy Purwono, Fakultas Ilmu Budaya UGM

“Bagus. Kondisi riil keluarga dan permasalahannya benar-benar ditonjolkan untuk mengukur seberapa peduli kita terhadap pendidikan.” – V. Probo Yuwono, Pemerhati Pendidikan

“Film yang bagus sekali untuk masyarakat umum. Menambah wawasan dan pengalaman bagi kita para guru untuk lebih bisa memahami anak didik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka yang berbeda-beda. Para pemain bukan aktor tapi hasil mereka sangat bagus.” – Lisnariyah, Guru

“Bagus. Harap ditayangkan di sekolah-sekolah SD – SMP untuk introspeksi bagi orangtua, wali murid, dan guru-guru.” – Patrick P. Austrinus, SMP Stella Duce 2

“Jika tiap guru seperti mereka ... Jadi kangen dengan anak-anak. Pingin bisa jadi teman mereka.” – Ika, Universitas Negeri Yogyakarta

“Saya sedang bosan dan bingung dengan rutinitas saya sehari-hari dan film ini telah menyemangati saya. I love this movie.” – Thulik Suhartoyo, Karyawan

“This film is perfect. Pesannya nyampai. Dan yang paling penting seluruh orangtua di Indonesia wajib nonton.” – Dendi B.P., Pelajar SMA

“Keren bangeeet!! Pemain-pemainnya aktingnya natural dan ide ceritanya bagus banget. Dari film ini saya bisa belajar gimana semangat anak-anak, termasuk mereka yang kurang mampu. Saya juga jadi tahu ternyata banyak sekali orangtua yang cara berpikirnya masih sangat konvensional dan kolot. Andai saja para guru saat ini punya semangat kayak guru-guru di film ini – dan orientasinya tidak sebatas gaji – pasti dunia pendidikan akan lebih indah ...” – Elisabeth Adventa Galuh, Asrama Putri Stella Duce

“Masa SD saya tidak secerah-ceria itu ... Film yang top banget!” – Noor Alifa Ardianingrum, Psikologi UGM

“Menarik, karena mewakili kisah hidup dan realita pendidikan yang ada di negeri ini, dengan menyentuh masalah-masalah dari latar-belakang keluarga yang beragam. Sebuah film yang sangat mendidik dan realistis. Suguhan yang sehat, bermanfaat bagi masyarakat. Bukan film yang mengajari masyarakat untuk selalu bermimpi seperti film-film yang ada selama ini. Bukan film yang instan.” – Fenni Yuliastuti

“Menyentuh. Saya melihat suka-duka guru yang mengajar dengan murid-murid yang memiliki latar-belakang beragam. Dari segi pemeran film ini sangat menarik karena sebagian besar diperankan oleh para pendidik. Two thumbs up for those great teachers!” – Sari Wulandari, Guru SD Budi Mulia II

“Filmnya bener-bener bagus! Salut banget!” – Nunung Dwi Sulastri, Pemerhati Pendidikan

“Bagus, menyentuh, inspiratif.” – Yovita Mahanari, Guru SMA Sang Timur

“Tema yang sangat aktual dan patut diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Teruskan!” – Ariane Alexa, SMA Stella Duce I

“Menyadarkan kita anak-anak bisa menjadi teman dan sahabat kita. Anak-anak punya masa depannya sendiri, mereka bukan manifestasi dan korban ambisi orangtua. Bagus banget! GBU!” – Eustolia Dwi, Karyawati

“Ada banyak hikmah yang bisa dipelajari. Coba diadakan tour pemutaran ke sekolah-sekolah. Selamat dan sukses ... Saya senang dan bahagia.” – Ristianto Cahyo Wibowo, Pemerhati Pendidikan

“Bagus, menarik, menjadi permenungan kita para orang dewasa.” – Yovita Anjani

“Seharusnya film-film seperti ini lebih banyak ditayangkan. Supaya lebih banyak orang lagi yang sadar hakekat pendidikan. Bahwa pendidikan itu bukan sekedar mengejar nilai dan ranking. Tapi lebih pada pembinaan hidup. Bagaimana kita memaknai dan menghidupi hidup kita ini. Lewat film ini pesan bahwa kita sekolah bukan untuk pintar secara intelektual saja telah berhasil disampaikan. Kita sekolah supaya suatu hari nanti bisa jadi “orang”. Orang yang punya hati dan budi. Setelah bekal itu kita miliki kita dapat bersama-sama memperbaiki taraf kehidupan dan penghidupan kita.” – Catherine Emilia, Pelajar SMA

“Penonton sangat sedikit. Sayang untuk sebuah film bagus.” – Lono Wahyu Widiatmoko, Karyawan

“Awalnya sih cuma pingin ngajak adik nonton karena kebetulan temanya anak. Tapi setelah mengikuti saya suka, dialognya lucu ... Isinya berbobot, tapi diceritain dengan sederhana. Pas terakhir aku liat ada yang nangis, aku juga hiks ... Tapi aku bingung, Andi jadi pergi nggak sih? Banyak guru harus lihat film ini, biar ibuku juga nggak cuma rapat ...” – Asti, Karyawati

“Bagus. Banyak memberi kita contoh konflik-konflik yang ada dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini. Antara kebutuhan ekonomi dan kebutuhan pendidikan.” – Arman Hifni, Pelajar

“Great movie! Sering-sering aja ngadain.” – Calvin D. Emil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

“Musiknya lumayan asyik dan enak komposisinya. Cuma kadang terlalu menenggelamkan dialog. Dialognya bagus, memang agak over-realistis tapi dengan itu jadi tidak membosankan. Proficiat!!” – Fr. Wisnu Prabawa, Pemerhati Pendidikan & Kehidupan Anak

“Sangat mendidik, mengandung unsur keterbukaan. Perlu disosialisasikan di setiap sekolah.” – Agus Wijayanto, Orangtua

“Lucu. Menghibur.” – Ny. Farida, Ibu RT di Prambanan

“Siiiplah! Good!! Mendidik banget di tengah sinetron-sinetron yang makin tidak bermutu!” – Fitri Diah Utami, SMK Putra Tama

“Keren! Jarang ada ... Gokil! Salam buat Iwan.” – Chezar, SMA Stella Duce

“Anak-anak dan orangtua wajib nonton! Bikin yang seru lagi ya!” – Rini Yudhawati, Prambanan

“Kita bisa tahu konflik sebenarnya yang melatarbelakangi anak tidak sekolah ...” – Rizky Drupadi, Aktivis Teater Sekolah

“Saya sangat salut sekali. Terutama kepada aktor-aktornya yang ternyata beliau-beliau adalah kepala sekolah dan guru-guru. Ternyata aktingnya melebihi pemain-pemain yang selama ini sering saya tonton di tv. Semoga segera membuat film selanjutnya.” – Wasiran Siswanto, Orangtua

“Filmnya asyik. Sangat mendidik. Memberikan pengalaman tentang anak-anak, bagaimana mengerti dan memahami mereka.” – Ira, Universitas Sanata Dharma

“Ceritanya bagus. Aktingnya natural sekali seperti dalam kehidupan sehari-hari.” – Endar Setyaningsih, Guru

“Bagus ... Keren ... Ampe nangis ...” – Anastasia Winanti

“Filmnya menarik, menyentuh perasaan kita. Permasalahan di film cukup kompleks tapi ending-nya membuat saya lega.” – Dani Swastuti S.Pd, Guru

“Film bagus dan bermakna. Sebagai gambaran guru dalam dunia pendidikan, seorang guru bisa menjadi teman dan sahabat bagi murid-muridnya.” – Antonius Ibnu

“Ternyata kehidupan kita kalau difilmkan jadi gokil. Benar-benar terasa natural. Sekolah banyak tantangan dan hambatannya. Menyentuh. Pokoknya keren.” – Jean, Asrama Putri St. Mikael, Warak

“Seru! Besok bikin lagi yang berbeda seperti ini! Aku menanti!” – Mario Heatubun, Penggiat Kerohanian

“Nice film. Inspiratif.” – Antonia Yunita Dewi

“Bagus banget! Menyentuh hati. Bikin terharu!” – Agatha & Sherly Gunawan, SMA St. Mikael, Sleman

“Saya nonton film ini setelah memperoleh informasi dari anak saya. Film ini sangat baik, dapat kita contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.” – Siti Yuniati Susilo, Orangtua

“Inspiring. Jadi lebih tahu tentang kondisi pendidikan. Dan melihatnya dari sudut pandang berbeda.” – Dian Paramita, UGM

“Good. Tapi agak kurang mengena untuk anak saya karena anak saya masih TK, senangnya film seperti Spiderman dan Naruto ... Tapi bagus kok untuk anak SD.” – Hasta, KHK YCAP

“Terharu. Senang. Menambah motivasi.” – Ina Wahyuningsih, Magelang

“Filmnya lucu. Banyak adegan humor. Menggambarkan sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan.” – Hendy Adhitya, Mahasiswa

“Bagus sekali. Perlu diperbanyak untuk memberi contoh langsung pada masyarakat.” – Eksi Hastuti

“Keren ... Sebuah film tentang konflik dalam sekolah secara nyata.” – Tika Dhefiana, Pelajar

“Saya seperti melihat mimpi! Betapa idealnya suasana sekolah ini, kelas begitu hidup, hubungan murid, guru, dan orangtua bagus. Kegiatannya juga bagus! Sementara dalam kenyataan kita harus membayar mahal, belum lagi tuntutan guru untuk sertifikasi yang menghabiskan banyak waktu, betapa sistem sangat tidak berpihak sehingga sekolah seperti pabrik yang mencetak siswa sebagai komoditas.” – Petra Ratna Ika Sari, Orangtua

“Seru, lucu ...” – Veronika, Fisip – Universitas Atma Jaya Yogyakarta

“Jaman sekarang harus dua arah. Komunikasi antara sekolah dan orangtua harus intensif seperti contoh di film.” – I Gede Edy Purwaka, USC Satunama

“Sebuah film yang bisa buat belajar!” – Djohan, Ekspresi Studio

“Filmnya bagus dan sepertinya perlu ada film-film seperti ini.” – Bernardus Barto, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

“Penasaran. Bagus.” – Syarif Nurullah, Siswa SD Masjid Syuhada

“Menyenangkan. Senang.” – Baron Prakoso, Siswa SD Lempuyangwangi

“Bagus. Film ini berhasil mempertahankan kepolosan anak-anak.” – Harry, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

“Jadi pingin tahu sekolahan seperti di film itu benar ada nggak ya? Kalau ada saya mau menyekolahkan anak saya di sekolah itu.” – Pritameani, Komunitas Homeschooling Taman Bunga

“Film ini memberikan stimulus dalam memaknai pendidikan. Menggambarkan tiap sisi sudut pandang yang memiliki nilai kebenaran masing-masing, oleh karena itu ada pro-kontra tentang sekolah. Sistem pendidikan ‘Setiap manusia harus selalu belajar sepanjang hayat’ adalah acuan bagi pendidik.” – Allina, USC Satunama

“Bagus ... Sangat membumi. Baiknya dipublikasikan lebih gencar untuk masyarakat umum.” – Regina Nita, Orangtua

“Saya sangat senang sekali. Saya sangat terharu dengan perjuangan anak itu.” – Bambang Priyono, Siswa SD Surokarsan II

“Bagus. Menambah wawasan tentang bagaimana mendidik anak, khususnya dalam menanamkan tanggung-jawab dan menyelesaikan masalah.” – Amiddanal Khusna

“Sekolah tidak hanya prestasi tetapi bagaimana mengolah rasa dan empati terhadap teman dan sesama.” – Sri Sulastri, USC Satunama

“Siipp ... Cocok ditonton calon-calon guru.” – Suharmono, Universitas Ahmad Dahlan

“Bagus! Ide cerita dan akting anak-anaknya natural. Kalau ada pemutaran lagi kasih info yaa ....” – Citra, Karyawati

“Lebih semangat untuk sekolah hingga cita-cita tercapai.” – Maria Azalea, Pelajar SMP

“Natural, realistis. Bagus. Selamat.” – Eko Harsoselanto, Yayasan Kampung Halaman

Monday, December 17, 2007